Brilliant Publisher Indonesia

Cara Menulis Abstrak pada Jurnal (Lengkap + Contoh)

Cara Menulis Abstrak pada Jurnal

Abstrak sering dianggap bagian “pelengkap” yang ditulis buru-buru di menit-menit terakhir. Padahal, ini adalah bagian pertama kadang satu-satunya yang dibaca reviewer, editor, dan peneliti lain sebelum memutuskan apakah naskahmu layak dilanjutkan atau dilewati begitu saja.

Artikel ini membahas cara menyusun abstrak jurnal yang padat, jelas, dan sesuai standar publikasi ilmiah, lengkap dengan langkah praktis dan kesalahan yang paling sering bikin naskah ditolak di tahap awal.

Apa Itu Abstrak Jurnal?

Abstrak adalah ringkasan singkat yang memuat inti dari sebuah artikel penelitian: latar belakang masalah, tujuan, metode yang digunakan, hasil yang diperoleh, dan kesimpulan. Ditulis dalam satu paragraf padat, biasanya 150-250 kata, abstrak berfungsi sebagai “pintu masuk” pembaca menentukan dari sini apakah artikel penuh layak dibaca.

Di bagian akhir abstrak biasanya dicantumkan kata kunci (keywords), yaitu istilah-istilah yang mewakili topik penelitian dan memudahkan indeksasi di database jurnal. Misalnya, penelitian tentang pengaruh TikTok terhadap minat belanja bisa menggunakan kata kunci: TikTok, minat belanja, media sosial. Jumlahnya umumnya 3-6 kata, dan sebaiknya bukan kata yang sudah muncul di judul — supaya jangkauan pencarian artikelmu lebih luas.

Satu hal yang sering luput: abstrak ditulis untuk dibaca berdiri sendiri. Artinya, seseorang yang belum pernah membaca naskah lengkapmu harus tetap paham inti penelitian hanya dari paragraf ini saja — tanpa perlu buka bab Pendahuluan atau Metode untuk mengerti konteksnya.

Ciri-Ciri Abstrak yang Baik

  • Mewakili keseluruhan isi artikel, bukan hanya sebagian
  • Ditulis dalam kalimat aktif dan langsung ke inti
  • Bebas dari opini atau komentar pribadi penulis
  • Panjangnya 150-400 kata, tergantung ketentuan jurnal tujuan
  • Tidak memuat kutipan, singkatan yang tidak dijelaskan, tabel, atau grafik
  • Diakhiri dengan kata kunci untuk keperluan indeksasi

2 Jenis Abstrak: Indikatif vs Informatif

Abstrak indikatif hanya memberi gambaran umum topik yang dibahas, tanpa memuat data atau hasil secara rinci. Biasanya dipakai saat naskah belum selesai tapi sudah harus disetor untuk keperluan seminar atau simposium.

Abstrak informatif jenis yang paling umum dipakai jurnal ilmiah — memuat gambaran lengkap: tujuan, metode, hasil, sampai kesimpulan, sehingga pembaca bisa memahami esensi penelitian tanpa membaca naskah penuh. Hampir semua jurnal Sinta maupun Scopus mensyaratkan format ini, jadi kalau kamu ragu jenis mana yang diminta, pilih informatif sebagai default.

Contoh Abstrak Jurnal Ilmiah

Supaya lebih konkret, berikut contoh abstrak informatif untuk penelitian di bidang sosial-media dan perilaku konsumen:

Maraknya penggunaan TikTok Shop di kalangan mahasiswa mendorong pergeseran pola belanja daring, namun pengaruhnya terhadap minat beli belum banyak diteliti pada segmen usia 18-24 tahun. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh konten video pendek terhadap minat belanja mahasiswa di tiga universitas di Jawa Barat. Metode yang digunakan adalah survei kuantitatif dengan 150 responden, dianalisis menggunakan regresi linear berganda. Hasil menunjukkan bahwa durasi paparan konten dan tingkat kepercayaan terhadap penjual berpengaruh signifikan terhadap minat beli, dengan kontribusi sebesar 62%. Temuan ini mengindikasikan bahwa strategi pemasaran berbasis video pendek perlu mempertimbangkan durasi optimal dan elemen kepercayaan untuk meningkatkan konversi. Kata kunci: TikTok Shop, minat belanja, konten video pendek, perilaku konsumen.

Perhatikan polanya: satu-dua kalimat per komponen, tidak ada kutipan, tidak ada tabel, dan kata kunci muncul di baris terakhir. Struktur sesederhana ini yang sebaiknya kamu tiru, tinggal disesuaikan dengan topik dan data penelitianmu sendiri.

5 Komponen Wajib dalam Abstrak

1 Latar Belakang — kenapa penelitian ini penting (1-2 kalimat)
2 Tujuan — fokus utama yang ingin dicapai (1 kalimat)
3 Metode — desain, subjek, dan teknik analisis (2-3 kalimat)
4 Hasil — temuan kunci dengan data pendukung (2-3 kalimat)
5 Kesimpulan — makna hasil dan implikasinya (1-2 kalimat)

7 Langkah Menulis Abstrak Jurnal

1. Baca pedoman penulis jurnal tujuan. Setiap jurnal punya aturan berbeda soal format, batas kata, dan larangan (misalnya larangan singkatan atau data angka). Cek beberapa artikel terbaru dari jurnal tersebut sebagai acuan. Ini juga saat yang tepat untuk memastikan kamu sudah memilih jurnal yang kredibel dan sesuai bidang penelitianmu — supaya effort menulis abstrak tidak sia-sia karena submit ke jurnal yang salah.

2. Tandai poin-poin inti dari naskah lengkap. Tinjau ulang draf dari latar belakang sampai kesimpulan, catat apa yang jadi kebaruan (novelty) penelitianmu.

3. Susun draf awal per bagian. Ikuti alokasi kalimat: latar belakang (1-2 kalimat), tujuan (1 kalimat), metode (2-3 kalimat), hasil (2-3 kalimat), kesimpulan (1-2 kalimat).

4. Padatkan kalimat. Buang jargon berlebihan dan kalimat bertele-tele. Gunakan kalimat aktif (“Kami menganalisis” lebih baik dari “Analisis dilakukan”). Idealnya satu kalimat berisi 15-20 kata.

5. Cocokkan dengan isi naskah. Pastikan tidak ada data atau klaim di abstrak yang berbeda dari bab Hasil dan Pembahasan — ketidaksesuaian ini salah satu alasan paling umum reviewer menolak naskah di tahap awal.

6. Minta masukan orang lain. Rekan atau pembimbing biasanya lebih cepat menangkap kalimat ambigu yang kamu sendiri sudah terlalu terbiasa membacanya.

7. Proofread terakhir. Cek ejaan dan tata bahasa. Membaca abstrak dengan suara keras cukup efektif untuk menangkap kalimat yang janggal.

Kesalahan yang Paling Sering Bikin Abstrak Ditolak

  • Terlalu detail — abstrak bukan tempat memindahkan seluruh bab Hasil, cukup temuan utamanya
  • Bahasa kabur — tulis “menurun 85%”, bukan “menurun secara signifikan”
  • Melebihi batas kata — beberapa jurnal langsung menolak otomatis tanpa direview jika kepanjangan
  • Menyertakan kutipan — abstrak harus berdiri sendiri, kecuali jurnal secara eksplisit mengizinkan
  • Klaim berlebihan — jangan menyimpulkan lebih jauh dari apa yang benar-benar didukung data

Sebagian kesalahan di atas — terutama menyalin kalimat dari sumber lain tanpa parafrase yang tepat — bisa mengarah ke masalah yang lebih serius. Ada baiknya kamu juga pahami cara menghindari plagiarisme dalam penulisan ilmiah sebelum naskah disubmit, karena kemiripan tinggi di abstrak sering jadi pemicu awal pemeriksaan similarity index oleh editor.

Kesimpulan

Abstrak yang baik memuat lima elemen proporsional — latar belakang, tujuan, metode, hasil, dan kesimpulan — ditutup kata kunci untuk indeksasi. Tulis abstrak paling akhir, setelah naskah lengkap rampung, supaya benar-benar mencerminkan isi final penelitianmu, bukan rencana awal yang mungkin sudah berubah di tengah proses riset.

Kalau target publikasimu jurnal terindeks Scopus, abstrak yang kuat hanyalah satu bagian dari keseluruhan proses. Kamu bisa pelajari lebih lanjut strategi supaya naskah lebih cepat tembus jurnal Scopus, mulai dari pemilihan jurnal sampai proses review.

FAQ

Apa itu abstrak jurnal?
Ringkasan singkat dari sebuah artikel penelitian yang memuat latar belakang, tujuan, metode, hasil, dan kesimpulan.

Berapa jumlah kata ideal untuk abstrak jurnal?
Umumnya 150-250 kata, meski ada jurnal yang membatasi hingga 400 kata. Selalu cek pedoman jurnal tujuan.

Apa saja komponen wajib dalam abstrak jurnal?
Latar belakang, tujuan, metode, hasil, dan kesimpulan — ditutup 3-6 kata kunci.

Kapan sebaiknya abstrak ditulis, di awal atau akhir?
Sebaiknya di akhir, setelah seluruh naskah selesai, supaya isinya konsisten dengan hasil final penelitian.