Bapak dan Ibu dosen yang sedang berusaha memenuhi Angka Kredit (KUM), memahami struktur artikel ilmiah IMRAD untuk mengusulkan jabatan Lektor Kepala atau Guru Besar, atau para peneliti yang sedang menyusun naskah kelulusan program pascasarjana, pasti tahu betul kondisi di ruang kerja menjelang tenggat waktu pengajuan: laporan penelitian telah ditulis dengan ribuan kata, tetapi ketika ingin diubah menjadi naskah jurnal yang terkenal, keraguan terbesar justru muncul saat memetakan struktur teksnya.
Banyak naskah ditolak oleh editor jurnal yang terakreditasi SINTA (S1–S2) maupun terindeks Scopus bukan karena data dalam naskah tidak memadai, tetapi karena penulis gagal menyusun alur pikir secara tepat sesuai dengan standar internasional.
Mempelajari struktur artikel ilmiah (IMRAD) secara teratur bukan hanya menghafal singkatan, tetapi cara menghubungkan logika penelitian dengan kebutuhan pemeriksa jurnal secara alami.
Struktur artikel ilmiah yang disebut IMRAD adalah singkatan dari empat bagian utama dalam sebuah karya akademik, yaitu Pendahuluan, Metode Penelitian, Hasil Penelitian, dan Pembahasan.
Kerangka ini digunakan secara luas oleh jurnal yang terdaftar di portal resmi SINTA Kemdiktisaintek serta penerbit internasional yang terpercaya karena sifatnya yang logis, efisien, dan objektif.
Setiap bagian dalam struktur artikel ilmiah IMRAD menjawab pertanyaan mendasar dari proses penyelidikan ilmiah:
Menjawab pertanyaan: “Masalah apa yang diteliti dan mengapa penelitian ini penting dilakukan?”
Menjawab pertanyaan: “Bagaimana penelitian dilakukan dan bagaimana data dikumpulkan serta dianalisis?”
Menjawab pertanyaan: “Apa temuan objektif dari eksperimen atau pengamatan yang telah dijalankan?”
Menjawab pertanyaan: “Apa arti dari temuan tersebut dan bagaimana posisinya dibanding riset terdahulu?”
Berikut tabel komponen artikel ilmiah dengan metode IMRAD. Yuk, kita simak penjelasannya di bawah ini!
| Komponen | Fokus Isi | Proporsi | Kesalahan Fatal |
|---|---|---|---|
| Introduction | Konteks, latar belakang, state of the art, research gap, novelty, dan tujuan penelitian. | 15% sampai 20% | Didominasi definisi dasar, tanpa sitasi jurnal terbaru, dan gap penelitian tidak jelas. |
| Methods | Desain riset, populasi dan sampel, prosedur, tahap analisis data, serta aspek etika penelitian. | 10% sampai 15% | Menulis ulang definisi teori metode, dan kurang rinci sehingga penelitian tidak bisa diulang orang lain. |
| Results | Penyajian temuan empiris, tabel, grafik, ilustrasi, dan hasil uji statistik. | 20% sampai 25% | Mencampur narasi hasil dengan opini, dan mengulang isi tabel kata demi kata. |
| Discussion | Interpretasi temuan, komparasi dengan literatur, implikasi, dan keterbatasan riset. | 35% sampai 40% | Hanya mengulang angka dari bagian hasil tanpa dialog kritis dengan literatur lain. |
Keempat komponen ini mengisi sekitar 80 sampai 100 persen badan artikel. Sisanya dialokasikan untuk abstrak, kesimpulan, dan daftar pustaka. Perhatikan bahwa Discussion memegang porsi terbesar, bukan Results.
Masalah utama yang dihadapi para dosen dan peneliti di Indonesia adalah mengubah laporan penelitian yang panjang, seperti proposal hibah atau tesis serta disertasi, menjadi naskah yang lebih singkat dengan panjang sekitar 4.000 hingga 7.000 kata.
Struktur laporan yang membagi Bab I sampai Bab V dengan cara kaku sering kali membuat penulis ingin memindahkan seluruh bab secara langsung tanpa perubahan.
Untuk mencegah penggunaan kata yang berlebihan dan penolakan langsung (desk rejection), proses mengedit draf dapat dilakukan dengan pedoman taktis berikut:
Strategi memangkas teori baku (teori versus state of the art):
Laporan penelitian umumnya memiliki Bab II khusus untuk Tinjauan Pustaka yang berisi definisi variabel secara normatif.
Dalam artikel IMRAD, bagian Tinjauan Pustaka bisa digabungkan ke dalam Pendahuluan sebagai State of the Art untuk menunjukkan kebaruan, atau digabungkan ke dalam Pembahasan agar bisa membandingkan hasil penelitian. Hapus semua definisi konseptual yang sudah umum diketahui dalam bidang ilmu Anda.
Meskipun IMRAD diakui secara global, penerapannya tidak bersifat tunggal. Kejelian memahami variasi struktur berdasarkan disiplin ilmu akan menghindarkan Anda dari kesalahan format dasar:
Jurnal spesifik pada bidang ini sering kali menggunakan struktur gabungan Results and Discussion di bagian depan untuk memapar senyawa aktif dan spektrum analisis, lalu menempatkan bab Experimental Procedures (Methods) di bagian akhir naskah.
Memisahkan secara tegas antara Results dan Discussion. Dalam bab Methods, terdapat keharusan mencantumkan peta lokasi studi, titik koordinat geografis, serta izin etik pengambilan spesimen secara eksplisit.
Sering kali menyisipkan bab khusus Literature Review atau Theoretical Framework antara Pendahuluan dan Metode, atau menggabungkan Hasil dan Pembahasan secara tematis berdasarkan fokus kualitatif.
Sebelum mengirimkan naskah ke sistem OJS jurnal tujuan, pastikan naskah Anda telah memenuhi standar kepatuhan IMRAD berikut untuk meminimalisasi risiko desk rejection:
Proses publikasi akademik menuntut integritas penuh. Menghindari kelalaian penulisan struktur IMRAD adalah bagian dari profesionalisme ilmiah. Pastikan seluruh penyusunan data dilakukan secara jujur tanpa rekayasa.
Penggunaan layanan pendampingan editorial bertujuan untuk perbaikan bahasa, format selingkung, dan struktur alur logis — bukan untuk tindakan yang melanggar etika akademik.
Naskah Sudah Siap, Tapi Publikasi Tak Kunjung Terbit?
Sebagai dosen, Anda dikejar deadline laporan BKD, kenaikan jabatan fungsional, dan angka kredit yang menuntut publikasi di jurnal Sinta.
Mengurus template, format sitasi, revisi reviewer, hingga korespondensi editor bisa menyita waktu berbulan-bulan, sementara jadwal mengajar dan penelitian tidak bisa ditinggal.
Di sinilah Brilliant Publisher hadir.
Tim kami mendampingi Anda mulai dari penyesuaian naskah dengan template jurnal, proofreading, pemilihan jurnal Sinta yang tepat, hingga artikel terbit dengan LOA resmi.
Respon Cepat • Pendampingan Sampai Terbit • Jurnal Terakreditasi Sinta
Menguasai struktur artikel ilmiah (IMRAD) adalah dasar penting bagi dosen dan peneliti agar karya akademik mereka bisa bersaing di jurnal yang terakreditasi SINTA atau terindeks Scopus.
Dengan membuat Pendahuluan yang memiliki kesenjangan penelitian yang jelas, Metode yang jelas dan bisa diulang, Hasil yang netral, serta Pembahasan yang penuh dengan dialog terhadap literatur, kesempatan naskah Anda untuk melewati tahap review editor akan meningkat secara signifikan.
Q1: Apakah semua jurnal terakreditasi SINTA dan Scopus wajib menggunakan format IMRAD secara ketat? Sebagian besar jurnal ilmiah bidang ekzakta dan sains terhitung wajib mengadopsi IMRAD. Namun, jurnal bidang ilmu sosial, hukum, atau humaniora sering kali memperbolehkan variasi seperti penambahan bab Literature Review atau penggabungan bagian Results and Discussion. Selalu periksa petunjuk penulis (Author Guidelines) pada situs OJS jurnal tujuan.
Q2: Di manakah posisi Kesimpulan (Conclusion) dalam struktur IMRAD? Beberapa penerbit memasukkan kesimpulan sebagai paragraf penutup di dalam bab Discussion. Namun, mayoritas jurnal di Indonesia dan platform OJS menyediakan sub-bab tersendiri (Conclusion) setelah Discussion untuk merangkum jawaban atas tujuan riset serta memberikan saran/implikasi.
Q3: Apa perbedaan mendasar antara Tinjauan Pustaka pada tesis dan State of the Art pada artikel IMRAD? Tinjauan pustaka pada tesis cenderung memuat teori-teori dasar dan definisi konseptual secara luas. Sementara State of the Art pada naskah IMRAD berfokus pada peta perkembangan penelitian terbaru (3–5 tahun terakhir) dari jurnal bereputasi untuk membuktikan di mana letak kebaruan (novelty) riset Anda.
Q4: Berapa proporsi kata yang ideal untuk masing-masing bagian dalam naskah IMRAD? Secara umum, estimasi proporsi naskah adalah: Introduction (15-20%), Methods (10-15%), Results (20-25%), dan Discussion (35-40%). Bagian Discussion porsinya paling besar karena menunjukkan bobot kontribusi ilmiah penulis.
Q5: Bisakah laporan hasil penelitian hibah langsung diubah menjadi artikel IMRAD? Bisa, namun memerlukan proses restrukturisasi dan peringkasan. Laporan hibah harus dipangkas bagian teori dasarnya, dipadatkan metodologinya, serta difokuskan pembahasan hasilnya pada satu topik spesifik yang memiliki novelty tinggi.